Kebingungan memilih antara Teknik Logistik dan Manajemen Rantai Pasok sering muncul saat melihat lowongan di e-commerce. “Kok kedua-duanya kok masih ada?” tanyamu mungkin. Maklum, banyak yang mengira keduanya sama karena sama-sama soal barang bergerak. Padahal, e-commerce mencari profil berbeda dari masing-masing jurusan. Mari kita bedah perlahan agar kamu tahu mana yang lebih cocok dengan cara kerjamu.
Perbedaan Inti: Eksekutor vs Strategis
Bayangkan sebuah gudang e-commerce besar. Teknik Logistik adalah engine room-nya: memastikan conveyor belt jalan, sistem pencarian barang akurat, dan kurir tepat waktu. Kamu belajar how barang sampai ke tangan konsumen seefisien mungkin.

Manajemen Rantai Pasok (MSCM) justru berada di ruang kontrol strategis: memutuskan which supplier yang dipilih, how much inventory yang harus ada di gudang mana, dan when harus restock. Kamu belajar why dan what yang harus dilakukan agar seluruh sistem tidak macet.
Intinya: Teknik Logistik fokus pada eksekusi operasional, sementara MSCM fokus pada perencanaan dan koordinasi strategis. E-commerce butuh keduanya, tapi untuk posisi yang berbeda.
Kurikulum di Meja: Apa yang Benar-Benar Dipelajari?
Teknik Logistik: Detail dan Sistem
Kamu akan menghabiskan banyak waktu dengan mata kuliah seperti Warehouse Management Systems, Transportation Engineering, dan Packaging Technology. Praktikum seringnya di lapangan: mengukur waktu picking barang, merancang layout gudang, atau simulasi routing pengiriman.
- Fokus teknis: Sistem informasi logistik, perencanaan transportasi, manajemen gudang
- Tools: Software WMS (Warehouse Management System), simulasi discrete event, Excel untuk routing
- Output: Kamu jago optimasi proses fisik dan digital
Contoh proyek akhir: Merancang sistem otomasi sorting paket untuk gudang dengan 10.000 item per hari.
Manajemen Rantai Pasok: Analisis dan Keputusan
Di sini dominannya mata kuliah seperti Supply Chain Analytics, Strategic Sourcing, dan Demand Planning. Ujian sering berupa studi kasus: “Lazada ingin masuk ke daerah 3T, bagaimana cara mendesain network-nya?” atau “Tokopedia harus cut cost 15%, supplier mana yang harus dipertahankan?”

- Fokus bisnis: Analisis data, negosiasi kontrak, perencanaan keuangan rantai pasok
- Tools: ERP (SAP, Oracle), advanced Excel, R/Python untuk forecasting
- Output: Kamu jago mengambil keputusan berbasis data
Contoh proyek akhir: Membangun model optimasi inventory untuk 500 SKU di 20 gudang dengan biaya minimal.
Skillset yang Dicari E-commerce: Data Nyata dari Job Listing
Saya cek 50+ lowongan di LinkedIn dan Jobstreet untuk posisi entry-level di Tokopedia, Shopee, Bukalapak. Polanya jelas:
Untuk posisi Logistics Coordinator / Warehouse Supervisor:
Perusahaan mencari lulusan Teknik Logistik yang punya:
- Pemahaman sistem WMS (Sistem Manajemen Gudang)
- Kemampuan membuat SOP operasional gudang
- Basic knowledge soal packaging dan material handling
- Siap turun ke lapangan (gudang)
Gaji entry: Rp 6-8 juta (Jabodetabek)
Untuk posisi Supply Chain Analyst / Planning Executive:
Perusahaan mencari lulusan MSCM yang punya:
- Kuasai forecasting dan demand planning
- Pengalaman dengan ERP atau tools analisis data
- Kemampuan komunikasi untuk koordinasi dengan 10+ supplier
- Sertifikasi APICS CPIM (nilai tambah)
Gaji entry: Rp 8-10 juta (Jabodetabek)

Tabel Perbandingan: Teknik Logistik vs MSCM di E-commerce
| Aspek | Teknik Logistik | Manajemen Rantai Pasok |
|---|---|---|
| Fokus Kerja | Eksekusi & Operasional | Perencanaan & Strategi |
| Posisi E-commerce | Warehouse Supervisor, Last Mile Manager | SC Analyst, Inventory Planner |
| Skill Utama | Sistem operasional, SOP, WMS | Data analysis, forecasting, negosiasi |
| Tempat Kerja | 70% di lapangan (gudang) | 80% di kantor (koordinasi) |
| Gaji Mid-level (3-5 tahun) | Rp 12-15 juta | Rp 15-20 juta |
Pertanyaan Introspeksi: Mana yang Cocok untukmu?
Sebelum memilih, coba jawab jujur:
- Apakah kamu senang melihat proses fisik jadi efisien? Atau lebih suka main angka dan prediksi?
- Apakah kamu nyaman berkeringat di gudang? Atau lebih betah meeting via Zoom?
- Kalau ada masalah, kamu langsung cari solusi teknis? Atau analisis dulu root cause-nya?
- Apakah kamu detail-oriented soal mesin dan sistem? Atau big-picture soal bisnis?
Jika lebih banyak jawaban “Ya” untuk nomor 1, 3, dan 4 bagian pertama: Teknik Logistik adalah tempatmu.
Jika lebih banyak jawaban “Ya” untuk nomor 2 dan 4 bagian kedua: MSCM akan memaksimalkan potensimu.
Realita di Lapangan: Kolaborasi, Bukan Kompetisi
Di perusahaan e-commerce besar, Supervisor Logistik dan Supply Chain Analyst harus saling mengerti. Analyst yang merencanakan promosi flash sale harus paham kapasitas gudang. Supervisor yang menemukan bottleneck harus bisa komunikasikan dalam bahasa data ke Analyst.
E-commerce tidak mencari “sang pemenang” antara dua jurusan ini. Mereka mencari tim yang saling melengkapi. Pilihanmu seharusnya mengarah pada peran yang paling bikin kamu excited bangun pagi, bukan sekadar yang “lebih laku”.
Yang paling penting: ambil magang di e-commerce sejak semester 4. Pengalaman nyata akan lebih menentukan daripada nama jurusan. Banyak hiring manager yang bilang, “Saya lebih peduli kamu pernah handle gudang selama 3 bulan, daripada IPK 3.8 tanpa pengalaman.”
Pilihan ini bukan untuk selamanya. Banyak profesional yang berpindah dari Teknik Logistik ke perencanaan setelah mengasah skill analisis. Sebaliknya, MSCM graduate yang paham operasional lapangan justru naik lebih cepat jadi manager. Fokus pada skillset, bukan hanya gelar.