Salah satu pertanyaan paling umum yang saya terima dari calon mahasiswa berbunyi: “Kalau saya kuliah Hubungan Internasional, nanti jadi diplomat, ya?” Di balik pertanyaan itu tersimpan harap-harap yang wajar, tapi juga miskonsepsi mendasar yang perlu kita luruskan dulu. Memilih jurusan bukan soal prediksi jabuan, tapi soal kesesuaian minat dengan realita lapangan kerja.
Saya ingin membantu Anda melihat HI sebagaimana adanya: sebuah disiplin menarik yang membuka jendela dunia, tapi juga punya tantangan konkret yang tidak boleh diabaikan. Mari kita bahas tanpa embel-embel promosi.
Apa Sebenarnya yang Kamu Pelajari di HI?
Hubungan Internasional (HI) adalah studi interaksi antar-negara dan aktor non-negara dalam konteks global. Tapi jangan bayangkan kamu hanya menghafat nama presiden atau ibukota negara. Kurikulumnya jauh lebih technical daripada itu.
Di tahun pertama dan kedua, kamu akan disuguhkan teori-teori klasik seperti realism, liberalism, dan constructivism. Bukan untuk dihafal, tapi untuk dipahami sebagai kacamata analisis. Kamu juga akan belajar metodologi penelitian kuantitatif dan kualitatif—mulai dari cara membaca data statistik hingga melakukan wawancara mendalam.

Di tahun-tahun berikutnya, spesialisasi mulai muncul. Beberapa contoh mata kuliah konkret:
- International Political Economy: Kamu analisis bagaimana perdagangan, investasi, dan keuangan global mempengaruhi kebijakan negara.
- International Law: Bukan sekadar hukum, tapi mekanisme penegakan norma antar-negara dalam kasus seperti sengketa laut atau pelanggaran HAM.
- International Organization: Studi mendalam tentang cara kerja PBB, WTO, IMF, dan entitas regional seperti ASEAN atau Uni Eropa.
- Security Studies: Ini bukan soal perang saja, tapi juga isu-isu non-tradisional seperti terorisme, cyber security, dan bencana alam.
- Foreign Policy Analysis: Kamu belajar mengapa sebuah negara mengambil keputusan tertentu dengan melihat aktor domestik dan tekanan internasional.
Kesimpulannya? HI mengajarkan cara berpikir sistemik, bukan sekadar mengetahui fakta-fakta negara. Kamu dilatih jadi analis, bukan ensiklopedia.
Tantangan Nyata yang Jarang Dibicarakan
Sekarang mari ke bagian yang lebih jujur. HI bukan jurusan yang memberi jalan lurus. Ini adalah tantangan pertamanya: overlap. Kamu akan belajar sedikit ekonomi, sedikit hukum, sedikit sosiologi, sedikit sejarah. Tapi tidak pernah cukup dalam di salah satu bidang—kecuali kamu ambil konsentrasi khusus atau minor.
Tantangan kedua: job market yang tidak spesifik. Tidak ada lowongan kerja yang berlabel “Hubungan Internasional” secara eksklusif. Kamu akan bersaing dengan lulusan Ilmu Komunikasi, Ilmu Politik, Hukum, bahkan Ekonomi untuk posisi yang sama. Ini membuat differentiation sangat penting.
Tantangan ketiga: bahasa asing bukan opsi, tapi kebutuhan hidup. Banyak mahasiswa HI lulus dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, sementara pasar mengharapkan minimal bilingual, bahkan trilingual. Bahasa Inggris adalah bare minimum. Jika kamu tidak suka belajar bahasa, HI akan jadi perjalanan berat.

Tantangan terakhir: reputasi “jurusan gampang”. Beberapa orang menganggap HI sebagai jurusan untuk yang tidak suka eksakta. Anggapan ini salah total. Tugas-tugas analisis HI seringkali lebih abstrak dan membutuhkan kemampuan sintesis informasi dari sumber yang saling kontradiksi. Tapi stigma ini tetap ada dan bisa mempengaruhi persepsi employer.
HI bukan jurusan yang memberi jalan lurus. Ini adalah jurusan yang memberi toolkit—dan kamu harus pandai menggunakan alat-alat itu untuk membangun jalanmu sendiri.
Prospek Kerja: Di Mana Lulusan HI Bekerja?
Mari kita pecah mitos “lulus HI jadi diplomat”. Realitanya, dari ribuan lulusan HI setiap tahun, hanya puluhan yang diterima di Kementerian Luar Negeri melalui tes CPNS yang sangat kompetitif. Jadi, kemana sisanya?
Sektor Pemerintahan: Ya, ada opsi di Kemenlu, Kemenko Marves, atau Bappenas. Tapi ingat, entry barrier-nya tinggi. Kamu butuh nilai bagus, pengalaman magang, dan jaringan. Posisi di lembaga intelijen atau badan keamanan juga terbuka, tapi biasanya memerlukan proses seleksi ketat.
Organisasi Internasional dan LSM: UNICEF, UNDP, WWF, Human Rights Watch—mereka memang butuh analis. Tapi kebanyakan posisi meminta pengalaman minimal 2-3 tahun dan master degree. Magang di sini sangat berharga, tapi seringkali unpaid atau honorarium minim.
Korporasi Multinasional: Ini adalah sektor yang paling realistis. Perusahaan seperti Unilever, Shell, atau bank internasional butuh government relations officer, corporate communications manager, atau risk analyst. Gajinya kompetitif, tapi mereka mengharapkan kamu paham bisnis, bukan cuma politik.
Media dan Jurnalisme: Lulusan HI sering jadi wartawan khusus isu internasional, editor di media berbahasa Inggris, atau penulis di think tank. Tapi lagi-lagi, kamu butuh portofolio tulisan yang solid.
Konsultan dan Think Tank: Lembaga seperti CSIS, Indef, atau perusahaan konsultan seperti McKinsey (untuk divisi publik sektor) merekrut lulusan HI. Pekerjaannya? Riset, analisis kebijakan, dan penulisan laporan. Gajinya bagus, tapi workload-nya berat.
Akademisi: Bagi yang mau jadi dosen atau peneliti, kamu harus melanjutkan S2 dan S3. Ini adalah jalur panjang yang membutuhkan dedikasi tinggi.
Data konkret: Menurut survei tracer study beberapa universitas top, sekitar 60-70% lulusan HI bekerja dalam 6 bulan setelah lulus. Tapi sebagian besar tidak di posisi yang “langsung terasa” HI-nya. Banyak yang mulai dari executive assistant, customer relations, atau content writer sebelum akhirnya pivot ke arah yang lebih relevan.
Skill Set: Apa yang Pasar Cari vs Apa yang Kamu Dapat?
Universitas mengajarkan kamu critical thinking, analytical writing, dan public speaking. Tapi pasar kerja modern menambahkan beberapa tuntutan:
| Skill dari Kuliah HI | Skill yang Dibutuhkan Pasar | Gap & Solusi |
|---|---|---|
| Analisis teori internasional | Analisis data dengan Python/R | Ambil kursus online data analisis |
| Penulisan esai akademik | Penulisan laporan bisnis/proposal proyek | Ikuti organisasi kemahasiswaan yang produksi laporan |
| Bahasa Inggris formal | Bahasa Inggris bisnis/negosiasi | Ikuti simulasi MUN atau debat internasional |
| Pengetahuan umum global | Spesialisasi domain (energi, kesehatan, teknologi) | Pilih konsentrasi atau topik skripsi spesifik |
Poin kuncinya: HI memberi fondasi, tapi kamu yang harus bangun gedungnya. Jangan lulus hanya dengan IPK bagus tapi tanpa skill teknis tambahan. Employer akan tanya: “Selain baca koran internasional, apa yang bisa kamu lakukan?”
Kriteria Mahasiswa yang Akan Berhasil di HI
Berdasarkan pengamatan saya selama bertahun-tahun, mahasiswa HI yang sukses—baik akademik maupun karier—memiliki profil berikut:
- Memiliki rasa ingin tahu yang autentik: Bukan karena ingin terdengar pintar, tapi benar-benar penasaran mengapa negara A memutuskan X dan bukan Y.
- Suka membaca dan menulis: Bukan baca ringkasan di Twitter, tapi baca laporan 50 halaman dan bisa membuat ringkasan 2 halaman yang lebih mudah dipahami.
- Nyaman dengan ketidakpastian: Jawaban di HI jarang hitam-putih. Kamu harus nyaman berada di area abu-abu dan tetap bisa mengambil kesimpulan.
- Proaktif membangun jaringan: HI adalah jurusan yang sangat mengandalkan who you know. Magang, konferensi, dan koneksi alumni bukan opsi, tapi keharusan.
- Siap belajar seumur hidup: Isu global berubah cepat. Apa yang relevan hari ini bisa usang besok. Kamu harus suka update pengetahuan terus-menerus.
Jika kamu adalah tipe orang yang lebih suka jawaban pasti, struktur jelas, dan tidak suka berargumentasi, HI akan terasa seperti neraka. Tapi jika kamu suka debat berkualitas dan melihat pola besar, kamu akan sangat menikmatinya.
Strategi Bertahan Hidup: Tips dari Konselor
Sebagai penutup, izinkan saya berikan beberapa saran praktis jika kamu tetap memilih HI:
Pertama, pilih universitas yang tepat. Tidak soal ranking, tapi soal kurikulumnya. Lihat apakah mereka punya konsentrasi spesifik (misalnya: International Security, Global Development, atau Diplomacy) dan apakah ada mata kuliah praktis seperti Research Method atau Data Analysis for IR.
Kedua, magang sejak tahun kedua. Jangan tunggu lulus. Cari magang di Kedutaan, LSM, atau korporasi. Tujuan bukan CV, tapi untuk menguji apakah kamu betah di dunia praktik atau tidak.
Ketiga, kuasai minimal dua bahasa asing. Inggris wajib. Tambah satu lagi: Mandarin, Arab, Jepang, atau Prancis. Ini akan jadi pembeda utama.
Keempat, bangun portofolio. Mulailah menulis blog analisis, ikut konten esai, atau buat proyek riset kecil. Ini lebih berharga daripada sekadar IPK 3.9 tanpa bukti kerja.
Terakhir, pertimbangkan double degree atau minor. HI + Ekonomi, HI + Hukum, atau HI + Data Science adalah kombinasi mematikan di pasar kerja.
HI adalah seperti belajar seni. Universitas memberi kuas, cat, dan kanvas. Tapi karyamu yang akan menentukan apakah itu sekadar goresan atau mahakarya. Jangan salahkan kuasnya jika kamu tidak mau melukis.
Memilih HI adalah memilih jalur yang membutuhkan inisiatif ekstra. Bukan untuk yang pasif. Tapi jika kamu tahu cara memainkan kartunya, dunia akan terbuka lebar—karena pada dasarnya, semua hal di era global ini adalah soal hubungan, baik antarnegara maupun antarmanusia.