Anda pasti dengar: jurusan IT selalu penuh setiap tahun. Padahal kampus terus buat program baru, kuota ditambah, tapi tetap saja ramai peminat. Di balik antrean panjang itu, banyak calon mahasiswa dan orang tua yang bingung: apakah ini pilihan cerdas atau sekadar ikut-ikutan tren? Artikel ini akan bongkar apa yang sebenarnya terjadi, plus kelebihan dan kekurangan yang jarang diungkap.

Fenomena “Penuh” di Jurusan IT: Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Ketika kami bilang “full”, kami tidak cuma bicara soal kuota mahasiswa. Kondisi ini adalah symptom dari dinamika yang lebih kompleks di lapangan kerja dan dunia pendidikan.

Apa yang Dimaksud “Full” di Sini?

“Full” bisa berarti tiga hal sekaligus. Pertama, kuota penerimaan mahasiswa habis cepat. Kedua, kelas-kelas tambahan juga terisi. Ketiga, dan yang paling penting, pasar kerja IT sudah mulai padat pemula.

Banyak yang salah paham: penuhnya jurusan otomatis berarti lulusan langsung dapat kerja. Realitanya, supply junior developer sudah melimpah di kota-kota besar. Yang langka adalah talenta dengan skill spesialisasi dan pengalaman praktikal.

Angka dan Realita di Lapangan

Data JobStreet 2023 menunjukkan posisi programmer masih 15% dari total lowongan, tapi lamaran per posisi mencapai 200-300 di kota seperti Jakarta dan Surabaya. Bandingkan dengan posisi akuntansi yang mungkin hanya 50 lamaran per posisi.

Kampus negeri top seperti ITB dan UGM mencatat rasio 1:30 untuk jurusan teknik informatika. Artinya, three out of thirty applicants yang diterima. Kampus swasta ternama tidak jauh berbeda.

Kelebihan Jurusan IT yang Memang Nyata

Mengapa antrean tidak pernah sepi? Karena ada keuntungan konkret yang sulit diabaikan. Ini bukan sekadar hype.

Prospek Karir yang Luas dan Fleksibel

Lulusan IT tidak cuma jadi programmer. Anda bisa masuk ke data science, cybersecurity, UX/UI design, product management, hingga tech sales. Setiap perusahaan sekarang butuh tim digital, dari bank hingga pertanian.

Baca:  Kenapa Banyak Mahasiswa Berhenti Dari Jurusan Arsitektur? Ini Alasannya

Fleksibilitas ini memungkinkan Anda pindah lintas industri tanpa harus ganti jurusan kuliah. Skill coding dan analisis data adalah universal currency di era digital.

Gaji Kompetitif di Usia Muda

Ini fakta yang paling menggoda. Fresh graduate IT di Jakarta bisa mengantongi Rp 8-12 juta per bulan untuk posisi software engineer di startup atau perusahaan teknologi multinasional.

Bandung dan Yogyakarta sedikit lebih rendah, sekitar Rp 6-9 juta. Tetapi tetap di atas rata-rata fresh graduate dari jurusan lain yang umumnya Rp 4-6 juta. Bedanya signifikan untuk usia 22-23 tahun.

Belajar Skill yang Langsung Teraplikasikan

Jurusan IT unik karena Anda bisa hasilkan portfolio saat kuliah. Setiap proyek tugas akhir bisa jadi case study nyata. Bukan sekadar teori di atas kertas.

Banyak mahasiswa tahun dua sudah bisa ambil proyek freelance lewat platform seperti Upwork atau Fiverr. Skill yang dipelajari di kelas—Python, JavaScript, database—langsung bisa diuangkan. Ini jarang terjadi di jurusan teori murni.

Jaringan Global dan Kerja Remote

Industri IT adalah yang paling progresif soal remote work. Anda bisa bekerja untuk perusahaan di Amerika atau Eropa sambil tinggal di kampung halaman. Gaji dalam dolar, pengeluaran dalam rupiah.

Komunitas IT juga sangat global. Kontribusi ke proyek open source di GitHub bisa membangun reputasi internasional. Ini pintu gerbang menuju karir tanpa batas geografis.

Sisi Gelap: Kekurangan yang Jarang Dibicarakan

Sekarang kita beralih ke bagian yang sering disembunyikan brosur kampus. Ada harga yang harus dibayar.

Persaingan yang Sangat Ketat

Ini paradoks: jurusan paling populer tapi juga punya tingkat dropout tertinggi. Banyak mahasiswa tidak sanggup ikuti ritme. Di kampus swasta, angka dropout bisa mencapai 30-40% dari angkatan.

Ketika lulus, persaingan bukan berakhir. Ribuan junior developer baru setiap tahun fighting untuk posisi yang sama. Tanpa skill unik, Anda akan tenggelam di tengah kerumunan.

Tekanan Belajar Berkelanjutan

Framework JavaScript yang populer tahun lalu bisa jadi usang tahun ini. Tech stack berubah setiap 12-18 bulan. Kuliah hanya memberi fondasi; 80% skill harus diperbarui sendiri.

Anda harus biasa belajar dari dokumentasi teknis, video tutorial, dan trial-error. Ini bukan untuk orang yang ingin selesai kuliah lalu berhenti belajar. Lifelong learning bukan jargon, tapi kenyataan pahit.

Risiko Burnout dan Kesehatan Mental

Survey Stack Overflow 2022 menunjukkan 60% developer pernah alami burnout. Tekanan deadline, bug yang tidak kunjung selesai, dan ekspektasi untuk selalu tersedia membuat kesehatan mental rentan.

Kuliah IT sudah menanam benih ini: tugas menumpuk, proyek kelompok yang tidak seimbang, dan kultur competitive programming yang melelahkan. Banyak mahasiswa mengalami anxiety dan insomnia.

Baca:  Kenapa Saya Menyesal Masuk Jurusan Sastra Jepang? (Review Jujur Alumni & Realita Gaji)

“Hanya Orang IT” yang Bisa Masuk IT?

Mitos ini justru jadi kekurangan. Banyak calon mahasiswa non-IPA merasa tidak punya tempat. Padahal, sejarah, psikologi, atau seni bisa jadi aset di posisi seperti UX research atau tech content writer.

Namun stigma ini membuat jurusan IT terkesan eksklusif. Akibatnya, diversity di industri masih rendah. Padahal perspektif lintas disiplin justru dibutuhkan untuk inovasi.

Mitos vs Fakta tentang Jurusan IT

Sebelum Anda putuskan, mari luruskan beberapa kepercayaan umum.

  • Mitos: Jurusan IT paling sulit, hanya untuk genius matematika.

    Fakta: Logika dan problem-solving bisa dilatih. Banyak programmer sukses bukan juara olimpiade.

  • Mitos: Lulusan IT pasti langsung kaya.

    Fakta: Gaji tinggi butuh skill tinggi. Butuh 2-3 tahun pengalaman untuk benar-benar kompetitif.

  • Mitos: Perempuan tidak cocok di IT.

    Fakta: Perempuan di IT justru punya keunggulan di komunikasi dan teamwork. Yang kurang adalah representasi, bukan kemampuan.

  • Mitos: Kuliah IT = bisa hacking dan buat virus.

    Fakta: Hanya 5% kurikulum yang menyentuh cybersecurity secara mendalam. IT jauh lebih luas dari itu.

Warning Penting: Jangan pilih IT hanya karena gajinya besar. Jika Anda tidak enjoy problem-solving dan belajar mandiri, tiga tahun pertama kerja akan terasa seperti neraka. Passion > Profit.

Apakah IT Cocok untuk Anda? Tes Realistis

Mari kita lakukan reality check. Pilih jurusan bukan soal trend, tapi soal karakter.

Tes Realistis: Di Mana Anda Berada?

Jawab jujur pertanyaan ini. Jika lebih banyak “tidak”, pertimbangkan jurusan lain.

  • Apakah Anda suka puzzle, teka-teki logika, atau main catur?
  • Apakah Anda bisa duduk 4-6 jam fokus di depan laptop tanpa merasa bosan?
  • Apakah Anda tertarik dengan “cara kerja” di balik aplikasi atau game?
  • Apakah Anda siap belajar bahasa pemrograman baru setiap tahun?
  • Apakah Anda nyaman dengan feedback negatif (bug report) secara terbuka?

Pertanyaan Jujur Sebelum Mendaftar

Diskusikan ini dengan orang tua dan diri sendiri. Jawabannya akan menentukan kebahagiaan Anda selama 4 tahun.

Apa motivasi utama Anda? Jika jawabannya “gaji”, coba tanya lagi: apakah ada jurusan lain dengan prospek bagus tapi lebih sesuai minat? Finance atau actuarial science juga prospektif.

Bagaimana kondisi kesehatan mental Anda? IT adalah jurusan dengan kasus dropout tinggi. Jika Anda mudah stres dan tidak punya support system, pertimbangkan risikonya.

Apakah Anda punya rencana B? Tidak semua lulusan IT jadi developer. Beberapa pivot ke bisnis, pendidikan, atau bahkan seni. Pastikan skill Anda transferable.

Kesimpulan: Pilihan Cerdas atau Hype Semata?

Jawabannya: tergantung siapa yang memilih. IT adalah jurusan luar biasa untuk orang yang tepat, tapi neraka untuk yang salah jurusan.

Jika Anda genuinely penasaran dengan teknologi, enjoy belajar mandiri, dan punya ketahanan mental, IT masih pilihan terbaik di era digital. Gaji tinggi dan fleksibilitas karir bukan mitos.

Namun jika Anda hanya ikut-ikutan, siap menghadapi 4 tahun penuh penderitaan akademik dan karir yang stagnant. Persaingan tidak akan kasihan pada yang setengah-setengah.

Intinya: do your homework. Coba coding gratis di platform seperti freeCodeCamp atau Dicoding selama satu bulan. Jika masih excited, selamat datang di dunia IT. Jika tidak, jangan paksa. Masa depan cerah ada di banyak jurusan lain, bukan hanya IT.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Kenapa Saya Menyesal Masuk Jurusan Sastra Jepang? (Review Jujur Alumni & Realita Gaji)

Jika Anda membayangkan kuliah Sastra Jepang adalah jalan pintas ke negara sakura,…

Kelemahan Jurusan Teknik Informatika Yang Jarang Dibahas Mahasiswa Baru

Teknik Informatika kerap jadi primadona pilihan jurusan, tapi banyak mahasiswa baru yang…

Kelemahan Jurusan Desain Komunikasi Visual (Dkv) Yang Sering Bikin Drop Out

Desain Komunikasi Visual sering tampil sebagai jurusan impian bagi mereka yang suka…

Realita Kuliah Jurusan Tata Boga: Ekspektasi Jadi Chef vs Realita Cuci Piring?

Bayangan jadi chef berbintang di televisi seringkali jadi alasan utama memilih Tata…