Pertanyaan ini muncul di benak hampir setiap calon mahasiswa: “Jurusan Sastra Inggris itu nanti kerjanya apa, mengajar saja?” Di balik kekhawatiran tersebut ada keraguan yang valid tentang masa depan. Sebagai alumni yang sudah melewati jalan ini, saya ingin berbagi gambaran nyata tanpa embel-embel promosi. Jurusan ini memang punya daya tarik tersendiri, tapi juga tantangan yang perlu dipahami sejak awal.
Apa yang Sebenarnya Dipelajari?
Kesalahpahaman terbesar adalah mengira Sastra Inggris sama dengan kursus bahasa. Realitanya, Anda akan menghabiskan waktu membaca novel klasik, menganalisis puisi, memahami teori sastra, dan menulis esai kritis. Grammar hanya satu mata kuliah kecil di semester awal.
Inti studi adalah pemahaman budaya dan pemikiran. Anda belajar bagaimana kata-kata membentuk masyarakat, bagaimana narasi mencerminkan kekuasaan, dan bagaimana identitas direpresentasikan dalam teks. Ini bukan sekadar “belajar bahasa,” tapi belajar berpikir melalui bahasa.
Beberapa mata kuliah wajib yang akan Anda temui:
- Introduction to Literary Studies
- English Phonology & Morphology
- Shakespeare dan karya-karya klasik
- Postcolonial Literature
- Translation Studies
- Creative Writing

Tantangan yang Jarang Dibicarakan
Mari kita bicara soal elefannya di ruangan: Sastra Inggris bukan jurusan yang memberikan skill teknis instan. Anda tidak akan belajar coding, desain, atau akuntansi. Skill yang dibutuhkan pasar harus Anda kejar sendiri di luar kurikulum.
Beban bacaan bisa sangat menekankan. Rata-rata Anda akan membaca 2-3 novel atau setara per minggu, ditambah puluhan jurnal akademik. Bukan bacaan santai, tapi analisis mendalam dengan catatan rinci. Jika Anda tidak suka membaca, ini akan terasa seperti siksaan.
Warning: Jika motivasi Anda hanya “suka nonton film Hollywood tanpa subtitle,” pertimbangkan lagi. Sastra Inggris lebih banyak waktunya di perpustakaan daripada di bioskop.
Tantangan lain adalah ekspektasi keluarga. Di Indonesia, jurusan ini sering dianggap “tidak jelas” atau “kurang prestis.” Anda mungkin harus berulang kali menjelaskan bahwa ini bukan jurusan “nganggur.”
Prospek Karir: Fakta vs Fiksi
Mari kita lihat data konkret. Lulusan Sastra Inggris tidak hanya jadi guru. Berikut distribusi pekerjaan berdasarkan survei alumni beberapa universitas:
| Sektor Karir | Persentase Alumni | Contoh Posisi |
|---|---|---|
| Pendidikan & Pengajaran | 35% | Guru, Dosen, Trainer Bahasa |
| Media & Komunikasi | 25% | Content Writer, PR, Journalist |
| Corporate & Bisnis | 20% | HR, Marketing, CSR |
| Penerjemahan & Layanan Bahasa | 12% | Translator, Interpreter |
| Lainnya (Wirausaha, Lanjut Studi) | 8% | Startup, Master/PhD |
Gaji entry-level bervariasi tergantung kota dan industri. Di Jakarta, content writer rata-rata Rp 6-8 juta, translator freelance bisa Rp 150-300 ribu per halaman, sementara guru di sekolah internasional bisa mencapai Rp 10 juta++.
Kunci keberhasilan adalah portofolio. Tanpa portofolio tulisan, proyek penerjemahan, atau sertifikasi tambahan, CV Anda akan tenggelam. Pasar tidak peduli gelar, tapi bukti kemampuan.
Mitos yang Perlu Dibantah
Mitos 1: “Lulusan Sastra Inggris pasti jago ngomong.” Nyatanya, banyak alumni justru lebih kuat di menulis daripada speaking. Skill speaking butuh latihan terpisah.
Mitos 2: “Mesti punya TOEFL sempurna.” Tidak. TOEFL adalah tes akademik, bukan indikator kemampuan sastra. Banyak alumni sukses dengan TOEFL 550-600.
Keterampilan yang Dibangun
Apa yang sebenarnya Anda bawa pulang? Bukan sekadar vocabulary luas, tapi:
- Analisis Kritis: Mampu melihat pola, bias, dan argumen tersembunyi dalam teks apa pun
- Komunikasi Efektif: Menyusun ide kompleks menjadi pesan yang mudah dipahami
- Empati Kultural: Memahami perspektif berbeda dari berbagai budaya
- Manajemen Waktu: Menyeimbalkan bacaan berat dengan deadline esai
Skill ini yang membuat banyak alumni berhasil pivot ke UX Writing, Content Strategy, bahkan Product Management. Mereka yang menambah skill teknis dasar (SEO, analytics) jadi sangat kompetitif.

Cocok untuk Siapa?
Jurusan ini bukan untuk semua orang. Anda layak memilihnya jika:
Cocok jika:
- Anda menikmati membaca fiksi dan non-fiksi berat
- Suka menulis dan tidak keberatan menerima kritik keras
- Punya rasa ingin tahu tinggi tentang budaya dan sejarah
- Siap belajar skill tambahan di luar kuliah
- Tidak terlalu khawatir dengan gaji awal yang moderat
Pertimbangkan ulang jika:
- Anda cari jurusan dengan jalur karir jelas dan terstruktur
- Tidak suka membaca lebih dari 50 halaman per hari
- Ekspetasi keluarga sangat tinggi untuk gaji besar langsung
- Hanya mau fokus pada satu skill teknis spesifik
Tips Bertahan dan Sukses
Jika Anda memutuskan melanjutkan, ini strategi yang terbukti efektif:
1. Mulai Bangun Portofolio Sejak Semester 2
Terjemahkan artikel pendek, tulis blog analisis buku, atau buat konten Instagram edukatif. Jangan tunggu lulus. Portofolio butuh waktu untuk terbangun.
2. Ambil Minor atau Sertifikasi
Pilih minor di bidang komputer, bisnis, atau desain. Atau ambil sertifikasi Google Digital Marketing, HubSpot Content Marketing. Ini membuat Anda beda.
3. Jaringan dengan Alumni Aktif
Ikut komunitas alumni di LinkedIn. Tanyakan jalur karir mereka, minta advice. Jangan malu. Alumni Sastra Inggris biasanya solidaritasnya tinggi.
4. Magang di Semester 4-5
Magang di media, agensi kreatif, atau divisi HR perusahaan. Pengalaman kerja 3-6 bulan lebih berharga dari IPK 3.8 tanpa pengalaman.
5. Kuasai Satu Niche
Jangan jadi “bisa semua, tapi tidak spesialis.” Pilih satu: creative writing, technical writing, translation, atau teaching. Jadikan itu brand Anda.
Kesimpulan: Layak atau Tidak?
Jawabannya tergantung definisi “layak” Anda. Jika yang dicari adalah jurusan yang menjamin gaji tinggi dan pekerjaan mapan, mungkin ini bukan pilihan terbaik. Tapi jika Anda mencari foundation pemikiran kritis yang fleksibel dan mau bekerja keras melengkapi skill, Sastra Inggris bisa jalan yang berharga.
Jurusan ini seperti beli smartphone flagship tanpa charger: hardwarenya bagus, tapi Anda harus beli aksesoris sendiri. Daya jualnya ada, tapi butuh investasi ekstra.
Pilihan ada di tangan Anda. Jangan diputuskan karena “katanya” atau “temenku juga ambil.” Pahami dirimu, tujuanmu, dan kesiapanmu untuk investasi tambahan. Kalau semua itu terpenuhi, selamat datang di dunia kata-kata yang tak pernah sepi.