Bayangkan lulus dengan bangga, tapi kemudian menyadari gaji pertama hanya cukup untuk sewa kos dan mie instan. Bukan mimpi buruk, tapi realita yang menunggu lulusan beberapa jurusan. Data dari BPS dan survei lapangan kerja konsisten menunjukkan kesenjangan gaji antar disiplin ilmu—dan ini bukan soal ketidakadilan, tapi dinamika pasar yang keras.

Sebagai konselor, saya tidak pernah bilang “jangan ambil jurusan ini.” Tapi saya selalu tekankan: pahami konsekuensi finansialnya. Jika tujuan utamanya adalah gaji tinggi dan stabilitas ekonomi cepat, ada jurusan yang secara data memang tidak direkomendasikan. Bukan karena tidak berguna, tapi karena oversupply, permintaan rendah, atau substitusi teknologi.

Mengapa Jurusan-Jurusan Ini Gajinya Rendah? (Bukan Karena Tidak Pintar)

Sebelum menyebut nama jurusan, penting memahami faktor struktural di balik gaji rendah. Ini bukan soal kemampuan individu, tapi mekanisme pasar tenaga kerja yang tidak mengenal perasaan.

Pertama, oversupply. Banyak kampus buka jurusan dengan bi murah—Sastra Inggris misalnya—tapi tidak ada penyesuaian dengan absorpsi industri. Hasilnya? Ratusan lulusan tiap tahun, tapi lowongan terbatas.

Kedua, substitutability. Skill dari jurusan tertentu mudah digantikan. Seorang lulusan Sejarah atau Sosiologi bisa jadi analis, tapi lulusan Ekonomi atau Ilmu Komputer juga bisa—dan sering dianggap lebih “aplikatif.”

Ketiga, budget constraints sektor. Sektor-sektor yang mayoritas menyerap lulusan tertentu (misalnya pendidikan, seni, sosial) punya budget terbatas, sehingga gaji awal terkunci di bawah UMR regional.

7 Jurusan dengan Median Gaji Awal Paling Rendah (Data Realita)

Berdasarkan data Kemenaker, BPS, dan platform gaji seperti JobStreet serta LinkedIn Salary, berikut jurusan-jurusan yang secara konsisten berada di kuartil bawah. Catatan: median gaji di sini adalah gaji bulanan bersih tahun pertama di kota besar (Jabodetabek, Surabaya, Medan).

Perhatian: Data ini median, bukan maksimum. Artinya, ada yang berpenghasilan tinggi, tapi mayoritas berada di kisaran ini. Pilihan adalah hakmu, asal paham risikonya.

1. Sastra (Bahasa Asing dan Daerah)

Median gaji: Rp 3,5–4,2 juta/bulan. Oversupply paling parah. Hampir setiap universitas punya program Sastra Inggris, Jepang, atau Jawa. Industri penerjemahan profesional kecil, sementara sekolah swasta yang butuh guru bahasa punya budget terbatas.

Kasus nyata: Lulusan Sastra Jepang di Jakarta, kerja di travel agency, gaji Rp 4 juta dengan jam kerja 9–9. Bukan karena Jepangnya jelek, tapi travel agency banyak pesaing, margin tipis.

  • Penyebab Utama: Low barrier to entry (bisa belajar bahasa lewat kursus), ketersediaan platform AI translation.
  • Exception: Lulusan yang fokus linguistik teoritis dan jadi peneliti di lembaga bahasa, tapi peluangnya sangat sempit.
  • Strategi Mitigasi: Ambil minor di bidang bisnis, marketing, atau UX writing. Jangan cuma jago bahasa, tapi paham konteks bisnisnya.

2. Ilmu Sejarah

Median gaji: Rp 3,8–4,5 juta/bulan. Hampir tidak ada lowongan “Sejarawan” di pasaran. Lulusan mayoritas jadi guru (PNS atau swasta), peneliti museum, atau pivot ke bidang lain.

Permasalahannya, sekolah swasta cenderupilih lulusan Pendidikan Sejarah—yang punya sertifikasi mengajar—ketimbang Ilmu Sejarah murni. Museum dan lembaga penelitian? Kuota terbatas, butuh jaringan kuat.

Realita Pahit: Seorang lulusan Sejarah dari universitas besar di Yogyakarta mengatakan, “Saya cuma butuh 3 bulan bukan jadi guru, tapi 2 tahun bukan diterima di museum. Akhirnya jadi admin di perusahaan e-commerce.”

  • Penyebab Utama: Permintaan pasar sangat spesifik dan terbatas, tidak ada sector swasta besar yang butuh sejarawan masal.
  • Exception: Lulusan yang fokus sejarah ekonomi atau sejarah militer bisa jadi konsultan niche.
  • Strategi Mitigasi: Kuasai digital archiving, content research, atau data storytelling. Bisa jadi researcher untuk media atau think tank.
Baca:  5 Jurusan Kuliah Terbaik Untuk Karir Remote Work Di Era Digital

3. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK)

Median gaji: Rp 3,2–4 juta/bulan (swasta). Gaji PNS lebih tinggi, tapi PPPK/PNS untuk guru olahraga sangat langka. Sekolah swasta cenderuprioritaskan guru akademik daripada guru olahraga.

Di sekolah negeri, guru PJOK seringkali “guru honor” dengan gaji bulanan di bawah UMR. Di sekolah swasta, satu guru PJOK bisa melayani 500 siswa, tapi gajinya tetap di bawah guru Matematika.

Penyebab Utama: Sekolah lihat PJOK sebagai “pelengkap,” bukan prioritas. Anggaran pendidikan olahraka terbatas.

  • Exception: Lulusan yang buka usaha akademi olahraga pribadi atau jadi pelatih profesional.
  • Strategi Mitigasi: Sertifikasi pelatih internasional (UEFA, NASM), fokus olahraga niche seperti futsal atau renang yang punya pasar.

4. Seni Rupa dan Desain (Fine Arts)

Median gaji: Rp 3,5–4,8 juta/bulan (jika dapat kerja tetap). Realitanya, 60% lulusan bekerja proyekan (freelance) dengan income tidak stabil di tahun pertama. Galeri dan institusi seni di Indonesia terbatas.

Yang bikin gaji rendah bukan karena seni tidak berharga, tapi karena pasar lokal belum mampu memayungi seniman secara finansial. Karya seni tinggi harganya, tapi gaji desainer di perusahaan kecil atau guru menggambar di sekolah tetap minim.

  • Penyebab Utama: Pasar institusional seni kecil, freelance rates rendah di Indonesia, kurangnya appreciation ekonomi terhadap seni.
  • Exception: Lulusan yang masuk industri game art, UI/UX visual, atau branding agency besar.
  • Strategi Mitigasi: Jangan cuma jago gambar, tapi kuasai software industri (Blender, Unity). Build portofolio di ArtStation, target pasar internasional.

5. Ilmu Teologi/Agama

Median gaji: Rp 3–4,5 juta/bulan. Mayoritas lulusan diserap lembaga keagamaan (masjid, gereja, pondok pesantren) dengan sistem gaji yang seringkali donasi-based. Tidak ada sektor swasta yang massif butuh ahli teologi.

Di pondok pesantren, ustadz muda seringkali “ngaji gratis” sambil cari income sampingan. Di gereja, pastor atau pendeta baru mungkin dapat dukungan bulanan, tapi tidak sebanding dengan investasi pendidikan 4 tahun.

  • Penyebab Utama: Sektor ini non-profit, budget dari donasi, dan posisi terstruktur secara hierarkis (senioritas sangat menentukan).
  • Exception: Lulusan yang jadi dosen di IAIN/UIN atau peneliti di lembaga agama pemerintah.
  • Strategi Mitigasi: Kuasai psikologi konseling, bisa jadi konselor spiritual di RS atau perusahaan. Atau fokus penelitian komparatif agama untuk think tank.

6. Sosiologi dan Antropologi

Median gaji: Rp 4–5 juta/bulan. Lowongan kerja langsung untuk “Sosiolog” hampir tidak ada. Mayoritas pivot jadi researcher, HR, atau community manager. Sayangnya, posisi ini juga bisa diisi lulusan Psikologi atau Ilmu Komunikasi.

Perusahaan butuh pengertian sosial, tapi mereka lebih suka hire lulusan yang punya skill kuantitatif (data analysis) atau sertifikasi HR. Sosiologi murni dianggap “terlalu teoritis.”

  • Penyebab Utama: Skill tidak unik dan mudah tergantikan oleh lulusan disiplin lain yang lebih terstruktur.
  • Exception: Lulusan yang kuasai etnografi untuk UX research atau market research di perusahaan teknologi.
  • Strategi Mitigasi: Minor di data analytics, kuasai R atau Python untuk social network analysis. Bisa jadi researcher di Tokopedia atau Gojek.

7. Peternakan (Bukan Kedokteran Hewan)

Median gaji: Rp 3,5–4,5 juta/bulan. Ini pahit. Lulusan Peternakan seringkali oversupply di daerah, sementara industri peternakan modern (corporate farm) lebih suka hire lulusan Pertanian atau Biologi yang lebih general.

Baca:  7 Jurusan Kuliah Dengan Prospek Kerja Tinggi Untuk Lulusan Sma Ipa

Posisi di Kementan atau Balai Penyuluhan terbatas. Banyak lulusan akhirnya jual pakan ternak atau obat-obatan, bukan praktisi peternakan. Beda dengan Kedokteran Hewan yang punya lisensi dan pasar klinik yang jelas.

  • Penyebab Utama: Oversupply di daerah, industri peternakan belum modern, skill dianggap terlalu spesifik tapi tidak deep enough.
  • Exception: Lulusan yang fokus peternakan ayam layer modern atau akuakultur yang punya pasar korporat.
  • Strategi Mitigasi: Ambil sertifikasi manajemen rantai pasok, fokus pada peternakan korporat, atau buka usaha sendiri dengan modal patungan.

Tabel Perbandingan Faktor Gaji Rendah

Jurusan Oversupply Substitusi Skill Budget Sektor Median Gaji (Rp)
Sastra Sangat Tinggi Tinggi (AI) Rendah 3,5–4,2 juta
Ilmu Sejarah Tinggi Sedang Rendah 3,8–4,5 juta
PJOK Tinggi Sedang Sangat Rendah 3,2–4 juta
Seni Rupa Sedang Tinggi (Desain) Rendah 3,5–4,8 juta
Teologi Tinggi Rendah Sangat Rendah 3–4,5 juta
Sosiologi Tinggi Sangat Tinggi Sedang 4–5 juta
Peternakan Tinggi Sedang Sedang 3,5–4,5 juta

Jadi, Apakah Artinya Jurusan Ini “Jelek”?

Tidak. Gaji rendah bukan indikator nilai akademis atau kontribusi sosial. Guru PJOK yang membentuk karakter anak, sejarawan yang melestarikan identitas bangsa, atau seniman yang menginspirasi—mereka berharga. Tapi berharga secara sosial tidak selalu diterjemahkan ke dalam angka gaji.

Pertanyaan sebenarnya bukan “jurusan ini jelek atau bagus?” tapi “apakah kamu siap membayar harga finansialnya?” Jika kamu dari keluarga mampu, punya jaringan, atau memang ikhlas hidup sederhana—silakan. Tapi jika kamu butuh gaji tinggi untuk naik kelas ekonomi, maka pilihan ini adalah high-risk investment.

Strategi Jika Kamu Sudah Terlanjur di Jurusan Ini

Jangan panik. Pivoting itu mungkin. Berikut langkah konkret yang bisa diambil dari tahun pertama:

  • Minor atau Sertifikasi: Ambil minor di data, bisnis, atau digital marketing. Sertifikasi Google Analytics, HR, atau project management bisa jadi tiket pivot.
  • Portofolio Industri: Jangan tunggu lulus. Buat proyek nyata: translate novel, research untuk NGO, desain untuk UMKM. Portofolio > IPK.
  • Network Keluar Jurusan: Gabung organisasi mahasiswa lintas fakultas. Kenalan dengan anak teknik, ekonomi, hukum. Peluang sering datang dari sana.
  • Pertimbankan Magang di Startup: Startup cenderungbutuh skill, bukan gelar. Jadi community manager, content writer, atau UX researcher—meski dari jurusan sosial/humaniora.
  • Pikirkan Pascasarjana Pivot: S1 Sastra + S2 Manajemen = jalan ke industri. S1 Sosiologi + S2 Data Science = jadi data analyst.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul

Q: Katanya passion itu penting, kenapa sekarang jadi soal gaji?

A: Passion penting untuk sustainability. Tapi gaji penting untuk survival. Keduanya tidak mutual exclusive. Cari titik tengah: passion yang punya pasar. Kalau belum ada pasarnya, ciptakan pasar—tapi butuh modal dan jaringan yang mungkin kamu tidak punya.

Q: Saya diterima di Sastra Inggris kampus top. Apakah gaji tetap rendah?

A: Kampus top membuka pintu, tapi tidak menjamin gaji tinggi. Kamu akan lebih mudah dapat kerja, tapi median gaji tetap di range tersebut. Bedanya, kamu mungkin naik cepat. Tapi titik awalnya masih rendah.

Q: Kalau gini terus, kenapa kampus masih buka jurusan ini?

A: Fakultas ini murah dijalankan (tidak butuh lab mahal), dan banyak dosen yang butuh “makan.” Jadi ada kepentingan institusional. Tugasmu adalah filter informasi ini dan pilih yang terbaik untukmu, bukan untuk kampus.

Q: Apakah self-employed bisa jadi jalan keluar?

A: Bisa, tapi hitung modal dan risiko. Freelance translator bisa dapat Rp 10 juta/bulan—tapi butuh 2-3 tahun build client base. Buka studio seni? Butuh modal dan pasar. Self-employed bukan jalan pintas, tapi jalan panjang yang lebih berisiko.

Kesimpulan: Pilihan adalah Hakmu, Konsekuensi adalah Tanggung Jawabmu

Data di atas bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk menyadarkan. Perguruan tinggi adalah investasi terbesar keluarga. Memilih jurusan dengan median gaji rendah bukan salah, asal itu pilihan informed.

Jika setelah baca ini kamu tetap memilih Sastra karena memang cinta bahasa, silakan. Tapi sekarang kamu tahu harus ambil minor, sertifikasi, dan build portofolio dari tahun pertama. Jika kamu ogah ambil risiko, mungkin ini saatnya reconsider.

Ingat: gaji bukan satu-satunya kebahagiaan, tapi utang kuliah juga bukan satu-satunya beban yang ingin dibawa sampai tua. Pilih dengan kepala dingin, hati yang sadar, dan dompet yang dihitung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

5 Jurusan Kuliah Terbaik Untuk Karir Remote Work Di Era Digital

Remote work bukan sekadar tren sementara. Banyak perusahaan global kini mengadopsi model…

Rekomendasi Jurusan Kuliah Terbaik Untuk Anak Ips (Terbaru 2025)

Bingung memilih jurusan kuliah karena berasal dari IPS? Anda tidak sendirian. Banyak…

5 Jurusan Kuliah Dengan Gaji Tertinggi Untuk Fresh Graduate Di Indonesia

Bayangkan: lima tahun kuliah, investasi puluhan juta, lalu tiba-tiba gaji pertama Rp…

10 Jurusan Kuliah Murah Dengan Prospek Kerja Bagus Untuk Kelas Menengah

Pilihan jurusan kuliah sering jadi perbincangan yang penuh dilema di keluarga kelas…