Pilihan jurusan kuliah sering jadi perbincangan yang penuh dilema di keluarga kelas menengah. Di satu sisi ada hasrat untuk mengikuti passion, di sisi lain ada kenyataan bahwa biaya kuliah harus dihitung dengan cermat dan harus menghasilkan pengembalian yang layak. Bukan soal tidak percaya diri, ini soal keputusan finansial yang bijak.

Konteks kelas menengah di sini bukan hanya soal kemampuan membayar, tapi juga soai ekspektasi: lulus nanti harus cepat kerja, gaji cukup untuk hidup mandiri, dan idealnya bisa membantu keluarga. Jurusan yang “murah” pun relatif—bisa karena biaya kuliahnya memang terjangkau, atau karena investasi awalnya kecil tapi peluang kerjanya luas.
Mengapa Biaya Kuliah Bukan Satu-Satunya Pertimbangan
Sebelum meluncur ke daftar jurusan, penting untuk menyepakati dulu: murah tapi tidak ada pasar adalah jebakan. Yang kita cari adalah sweet spot—jurusan dengan biaya kuliah yang masuk akal, durasi studi standar, dan pasar kerja yang stabil bahkan tumbuh.
Pertanyaan yang sering muncul: “Kalau kuliah di kampus negeri di kota kecil, apakah prospeknya jauh lebih rendah?” Jawabannya: tidak selalu. Banyak perusahaan besar justru membuka lowongan di daerah untuk mengurangi biaya operasional. Yang penting adalah skill yang relevan dan kemampuan beradaptasi.
Data dari Kemenristekdikti menunjukkan bahwa tingkat pengangguran lulusan S1 di Indonesia bervariasi antarjurusan, tapi yang menarik adalah jurusan teknik, kesehatan, dan pendidikan konsisten menunjukkan penyerapan kerja di atas 85% dalam tiga tahun pertama setelah lulus. Ini angka yang cukup menenangkan.
10 Jurusan yang Masuk Akal untuk Pertimbangan
Daftar ini bukan peringkat, tapi susunan berdasarkan kombinasi riset pasar, biaya pendidikan rata-rata, dan fleksibilitas karier. Saya coba jelaskan nuansanya, bukan sekadar nama jurusan.
1. Pendidikan (Guru Mata Pelajaran)
Banyak yang menganggap profesi guru kurang menjanjikan secara finansial. Realitanya, gaji guru PNS UMP (Uang Makan Pokok) saat ini sudah di atas Rp 4 juta per bulan di daerah, dan bisa lebih tinggi di kota besar. Plus, ada tunjangan profesi yang meningkat tiap tahun.
Biaya kuliah di FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) PTN relatif murah, sekitar Rp 5-10 juta per semester. Beasiswa Pemerintah Daerah juga banyak tersedia. Prospeknya tidak hanya jadi guru sekolah—bisa juga pengajar di lembaga bimbingan belajar, content creator edukasi, atau trainer perusahaan.
Guru yang mampu mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran akan selalu dibutuhkan. Skill video editing, LMS (Learning Management System), dan assessment digital adalah nilai tambah yang bisa dipelajari secara otodidak.
2. Keperawatan
Jurusan ini memerlukan investasi praktikum, tapi biaya kuliahnya masih terjangkau di Poltekkes dan Universitas Negeri. Rata-rata Rp 8-15 juta per semester. Durasi 4 tahun (S1) atau 3 tahun (D3).
Prospek kerja sangat jelas: rumah sakit, klinik, home care, dan kini banyak startup kesehatan digital yang butuh perawat untuk telekonsultasi. Gaji perawat baru di RSUD provinsi bisa mencapai Rp 5-7 juta plus tunjangan. Buka praktik mandiri? Bisa, tapi butuh pengalaman minimal 5 tahun dan sertifikasi.

3. Teknik Informatika / Sistem Informasi
Ini jurusan yang sering dianggap mahal karena butuh laptop mumpuni. Tapi faktanya, kampus negeri di luar Jawa seperti UGM, ITB, atau ITS memiliki biaya kuliah sekitar Rp 10-15 juta per semester. Laptop Rp 7-8 juta sudah cukup untuk pemula.
Yang penting dipahami: jurusan ini bukan hanya untuk mereka yang suka coding sejak SMP. Banyak lulusan yang sukses di bidang product management, UI/UX design, atau data analyst yang justru lebih mengandalkan kemampuan komunikasi dan logika daripada kemampuan programming murni.
Prospek: gaji programmer junior di startup Jakarta Rp 6-10 juta. Di kota menengah, Rp 4-7 juta. Remote work untuk perusahaan luar negeri? Sangat mungkin dengan portofolio yang kuat.
- Fokus pada bahasa pemrograman yang banyak permintaan: JavaScript, Python, SQL
- Manfaatkan platform gratis: Coursera, freeCodeCamp, Dicoding Academy
- Buat portofolio proyek nyata, bukan hanya nilai IPK tinggi
4. Akuntansi
Jurusan klasik yang tetap relevan. Biaya kuliah di PTN sekitar Rp 6-12 juta per semester. Buku teks bisa mahal, tapi banyak versi digital gratis atau bekas yang masih relevan.
Prospek kerja sangat luas: perusahaan manufaktur, BUMN, KAP (Kantor Akuntan Publik), startup, hingga usaha mikro yang butuh bantuan laporan keuangan. Gaji staff akuntan di perusahaan menengah bisa Rp 5-8 juta. Jika lulus ujian sertifikasi (Brevet, CPA), nilai jual meningkat signifikan.
Tantangannya: banyak lulusan. Bedanya adalah mereka yang punya pengalaman magang sejak semester 4 dan menguasai software akuntansi populer (Accurate, Zahir, SAP) akan lebih cepat diterima.
5. Hukum
Kuliah hukum di PTN terkenal murah: Rp 5-10 juta per semester. Tapi, biaya buku dan fotokopi persemester bisa mencapai Rp 1-2 juta karena banyak catatan kuliah dan peraturan yang harus diikuti.
Prospek kerja tidak melulu jadi pengacara. Banyak korporasi butuh legal officer, pemerintahan butuh staf hukum, dan startup butuh compliance officer. Gaji legal staff di perusahaan swasta menengah Rp 6-9 juta.
Penting untuk dipahami: lulusan hukum yang sukses bukan hanya yang pandai debat, tapi yang mampu menulis kontrak yang jelas dan riset yang mendalam. Magang di kantor notaris atau Kementerian sejak tahun 3 sangat direkomendasikan.
6. Agribisnis / Agroteknologi
Jurusan ini sering dianggap sebelah mata, padahal prospeknya sangat cerah. Indonesia butuh generasi muda yang paham bisnis pertanian modern. Biaya kuliah di PTN pertanian (IPB, Unpad, UGM) sekitar Rp 8-15 juta per semester.
Peluang kerja: perusahaan perkebunan besar, startup agritech, ekspor hasil pertanian, hingga konsultan pertanian. Gaji di perusahaan perkebunan swasta bisa Rp 6-10 juta plus akomodasi. Buka usaha? Modal relatif kecil jika memanfaatkan lahan keluarga.
Pemuda lulusan agribisnis yang menguasai digital marketing dan supply chain management bisa menjual produk pertanian langsung ke konsumen kota dengan margin 3x lipat.
7. Psikologi
Biaya kuliah di PTN sekitar Rp 7-13 juta per semester. Buku-buku psikologi cukup mahal, tapi banyak jurnal open access yang bisa dimanfaatkan.
Prospek kerja sudah meluas dari yang tradisional (HR, konselor sekolah) ke yang modern: UX researcher, talent acquisition specialist, organizational development consultant. Gaji HR specialist di perusahaan menengah Rp 5-8 juta. Konselor di klinik swasta bisa Rp 8-15 juta jika sudah berpengalaman.
Tantangan: butuh gelar S2 untuk jadi psikolog klinis. Tapi untuk karier di korporat, S1 sudah cukup asal punya sertifikasi HR atau pengalaman magang yang relevan.
8. Teknik Sipil
Jurusan yang sering dianggap “jadul” tapi sebenarnya stabil. Infrastruktur Indonesia terus berkembang. Biaya kuliah di PTN sekitar Rp 8-14 juta per semester.
Prospek: kontraktor, konsultan perencana, BUMN (Waskita, Adhi Karya), pemerintahan (Dinas PU). Gaji engineer di kontraktor menengah Rp 6-9 juta. Buka kontraktor kecil? Bisa, tapi butuh pengalaman dan modal awal untuk peralatan.
Poin kunci: kuasai software CAD, SAP2000, dan project management tools. Sertifikasi BNSP untuk ahli K3 juga menambah nilai jual.
9. Farmasi
Jurusan ini memang lebih mahal dari yang lain karena lab dan bahan praktikum: Rp 12-20 juta per semester di PTN. Tapi dibandingkan jurusan kesehatan lainnya, ini masih lebih terjangkau daripada kedokteran.
Prospek: apoteker di rumah sakit atau apotek ritel, industri farmasi, regulasi (BPOM), R&D. Gaji apoteker di apotek besar bisa Rp 8-12 juta. Di industri farmasi, bisa lebih tinggi plus bonus.
Catatan: untuk praktik di apotek, harus lulus ujian kompetensi dan izin praktik. Tapi ini juga jaminan bahwa pasar tidak akan kebanjiran lulusan tidak kompeten.
10. Ilmu Komunikasi
Biaya kuliah di PTN sekitar Rp 6-11 juta per semester. Jurusan ini fleksibel: bisa jurnalisme, PR, broadcasting, atau digital marketing.
Prospek: banyak startup butuh content strategist, perusahaan butuh public relations officer, dan e-commerce butuh social media manager. Gaji content writer di startup Rp 5-8 juta. PR officer di perusahaan menengah Rp 7-10 juta.
Yang membedakan: portofolio. Mulai blog pribadi, kelola akun sosmed komunitas, atau buat podcast sejak semester 2. IPK 3.0 dengan portofolio kuat lebih menang daripada IPK 3.5 tanpa pengalaman praktis.
Strategi Pendanaan yang Sering Terlewatkan
Biaya kuliah tidak harus ditanggung sepenuhnya oleh orang tua. Ada beberapa jalur yang kurang dieksplorasi:
- Beasiswa dari Pemda: Hampir setiap kabupaten/kota punya anggaran untuk mahasiswa berprestasi. Syaratnya tinggal di wilayah tersebut dan IPK minimal 3.0. Nominalnya bisa Rp 1-3 juta per semester.
- Teaching Assistant (Asdos): Di kampus besar, asdos bisa dapat honor Rp 500 ribu – 1 juta per bulan plus pengalaman mengajar.
- Program Wirausaha Kampus: Banyak kampus punya inkubator yang memberikan modal awal Rp 5-20 juta untuk ide bisnis mahasiswa. Ini bisa jadi sampingan.
- Kerja Paruh Waktu di Bidang Terkait: Mahasiswa akuntansi bisa jadi pembukuan UKM, mahasiswa komunikasi bisa kelola sosmed lokal, mahasiswa informatika bisa ambil proyek kecil. Pengalaman dan uang saku ter-cover.
Peringatan Penting yang Jarang Dibicarakan
Jurusan bukan jaminan langsung. Faktor lain yang menentukan kesuksesan karier:
1. Lokasi Kampus: Kuliah teknik sipil di kampus yang dekat dengan proyek infrastruktur besar memberi akses magang lebih mudah. Kuliah agribisnis di daerah pertanian memberi pengalaman praktis langsung.
2. Kualitas Dosen vs Nama Kampus: Kampus negeri ternama tapi dosennya jarang hadir kurang berguna daripada kampus daerah dengan dosen yang aktif membimbing dan punya koneksi industri.
3. Ketersediaan Fasilitas: Lab komputer yang update, klinik praktik yang lengkap, atau studio broadcasting yang fungsional lebih penting daripada gedung megah.
Jurusan yang “murah” bisa jadi mahal jika lama selesai karena tidak serius. Jurusan yang “mahal” bisa jadi murah jika dapat beasiswa dan cepat kerja. Fokus pada efisiensi waktu dan energi.
Mengukur Prospek: Data Nyata vs Persepsi
Saya sering ditanya: “Mana yang lebih penting, passion atau prospek?” Jawaban saya: keduanya harus cukup. Passion tanpa pasar bikin kamu senang tapi kelaparan. Prospek tanpa minat bikin kamu cepat burnout.
Untuk mengukur prospek secara objektif, cek:
- Job portal: Cari lowongan untuk posisi “fresh graduate” di bidang tersebut. Lihat berapa banyak yang muncul dalam sebulan terakhir.
- LinkedIn: Cari alumni jurusan tersebut. Lihat posisi mereka 3-5 tahun setelah lulus. Ini gambaran riil.
- Gaji minimum provinsi: Bandingkan dengan gaji entry level di bidang tersebut. Jika gaji entry level masih di atas UMP, itu sinyal bagus.
- Trend regulasi: Jika pemerintah gencar membangun infrastruktur, teknik sipil dan agribisnis naik. Jika fokus digitalisasi, informatika dan komunikasi unggul.
Kesimpulan: Keputusan Seimbang untuk Keluarga Menengah
Tidak ada jurusan yang sempurna. Yang ada adalah keputusan yang informed—dibuat dengan data, bukan hanya ikut-ikutan teman atau stigma sosial. Kelas menengah punya keuntungan: cukup fleksibel untuk mengambil risiko terhitung, tapi juga cukup realistis untuk tidak ambil jurusan dengan ROI rendah.
Pilih jurusan yang memungkinkan kamu untuk belajar sambil menghasilkan sejak tahun kedua. Pilih kampus yang memberi akses praktik, bukan hanya teori. Dan yang paling penting, pilih jurusan di mana kamu bisa melihat diri kamu bekerja 5 tahun ke depan tanpa jenuh.
Investasi pendidikan terbaik bukan yang paling murah, tapi yang paling cepat menghasilkan cash flow positif—baik secara finansial maupun secara kepuasan hidup. Semua 10 jurusan di atas punya potensi itu, asal kamu masuknya dengan strategi yang jelas dan niat untuk tidak hanya lulus, tapi terpakai di masyarakat.